API DI BUKIT MENOREH SERI 2 PDF

Sidanti terdiam sejenak. Wajahnya menjadi tegang kembali. Namun sejenak kemudian ia menarik nafas. Yang penting, kita adalah putera-putera Tanah Perdikan. Pada kitalah terletak tanggung jawab masa depan Tanah ini.

Author:Mauramar Akinora
Country:United Arab Emirates
Language:English (Spanish)
Genre:Relationship
Published (Last):20 July 2007
Pages:474
PDF File Size:8.35 Mb
ePub File Size:7.50 Mb
ISBN:424-8-82838-174-3
Downloads:18194
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Goltinos



Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir di luar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar di antaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga di punggungnya.

Ketika darah mulai mengalir dari luka itu, maka harimau itupun menjadi bagaikan gila. Perasaan sakit yang tiada taranya telah mencengkamnya. Namun agaknya ia tidak mau menyerah. Dengan garang ia menggeram, dan sekali lagi menyerang Swandaru dengan kedua kakinya yang terjulur ke depan, dengan kuku-kuku yang tajam runcing.

Tetapi sekali lagi harimau itu terdorong surut. Sekali lagi cambuk Swandaru meledak, langsung mengenai kepala harimau itu. Harimau itu terjatuh dan berguling beberapa kali. Aumnya menghentak penuh kemarahan. Namun ledakan cambuk Swandaru bergema lebih keras. Dan harimau itupun menggeliat kesakitan. Disusul oleh ledakan sekali lagi, sekali lagi.

Orang-orang Sangkal Putung berdiri mematung di seputar arena itu seperti orang yang sedang bermimpi. Mereka melihat luka yang silang melintang menyobek kulit harimau itu.

Jalur-jalur yang panjang menganga sampai punggung. Ketika harimau itu menggeliat sekali lagi, maka Swandaru pun maju selangkah mendekatinya. Perlahan-lahan ia mengangkat cambuknya. Ia ingin meledakkan cambuknya untuk yang terakhir kali dan membunuh harimau itu sekaligus. Terdengarlah ledakan yang sangat keras bagaikan ledakan petir di langit. Dengan sepenuh tenaga cambuk Swandaru terayun dan mengakhiri perjuangannya melawan harimau itu dalam rangka menguji kemampuan tenaganya.

Pada saat yang hampir bersamaan, di dalam sebuah goa yarg sepi dan terpencil, telah terdengar pula ledakan yang sangat dahsyat mengguncang bagaikan gempa yang keras. Seonggok batu karang telah hancur pecah menjadi debu.

Sesaat ruang di dalam goa itu menjadi gelap, sehingga Agung Sedayu sendiri justru harus menutup hidungnya dengan telapak tangannya.

Napasnya rasa-rasanya menjadi sesak oleh debu yang menghambur memenuhi ruangan yang diguncang oleh kedahsyatan kekuatan cambuk Agung Sedayu.

Ketika ruangan itu kemudian menjadi terang kembali, maka Agung Sedayu melihat kepingan-kepingan batu-batu padas yang berserakan berhamburan di seluruh ruangan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia telah berhasil menyalurkan tenaga cadangannya sepenuhnya pada ujung senjatanya, sehingga ujung cambuknya yang lemas itu, telah mampu meremukkan seonggok batu karang yang keras. Sejenak Agung Sedayu berdiri termangu mangu kemudian satu-satu ia melangkah dan duduk di atas sebuah batu yang lain, merenungi kepingan batu karang yang telah dipecahkannya.

Ketika Swandaru dan pengiringnya berpacu kembali ke Sangkal Putung sambil membawa tubuh harimau yang terluka parah silang melintang itu, Agung Sedayu telah merenung di dalam biliknya. Sejenak ia masih duduk termangu-mangu. Tetapi ia sadar bahwa waktunya sudah sampai pada batas yang diberikan gurunya.

Tetapi sekarang aku sudah berhasil membuka pintu dan memasukinya setiap saat yang aku kehendaki. Sejenak ia masih duduk diam. Namun sejenak kemudian iapun teringat bahwa sudah waktunya ia turun dan menanak nasi. Karena itu, maka iapun perlahan-lahan menuruni lubang sempit yang berbelok belok.

Selagi ia merangkak turun, ia selalu merasa seolah-olah ia sedang beristirahat barang beberapa saat dan melihat alam di luar lingkungan dinding goa. Ketika kemudian Agung Sedayu berada di mulut goa untuk mencari air, maka hampir di luar sadarnya ia memperhatikan cahaya matahari yang jatuh di atas dedaunan yang hijau rimbun di tebing sungai yang curam itu. Sejemput angin yang berhembus menyusuri tebing sungai itu telah mengguncang dedaunan yang bergetar satu-satu di perapian cahaya matahari.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam ia sendiri kurang mengerti, kenapa ia senang sekali memandang cahaya matahari yang jatuh di dedaunan yang hijau segar. Sejenak Agung Sedayu mengambil nafas panjang sekali. Lalu melangkah ke sungai membawa mangkuk yang dibuatnya dari pelepah upih. Seperti yang selalu dilakukannya, maka Agung Sedayupun kemudian menanak nasi dan menjerang air utuk minum.

Agaknya kali yang terakhir karena di hari berikutnya ia harus kembali kepada gurunya di padepokan kecil yang telah dibangunnya. Agung Sedayu tiba-tiba telah dicengkam kerinduan kepada kemenakannya, Glagah Putih.

Ketika Agung Sedayu kembali ke daiam biliknya, ia masih ingin mempergunakan sisa waktu sebaik-baiknya. Setelah duduk merenung sejenak, maka mulailah ia dengan latihan-latihan terakhirnya bagi kekuatan-kekuatan yang diketemukannya di dalam goa itu. Sejenak kemudian iapun telah duduk bersila di atas sebuah batu padas di dalam ruangan. Kedua tangannyapun telah bersilang di dadanya. Setelah mapan, maka mulailah ia memusatkan segenap pikiran, perasaan dan indranya dalam pemusatan kekuatannya pada sorot matanya yang memiliki kemampuan sentuhan yang bersifat wadag.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu teluh mulai dengan sentuhan-sentuhan sorot matanya meraba dinding ruangan itu. Ia sengaja tidak mempergunakan benda-benda lain, tetapi ia ingin mengetahui kekuatan rabaan sorot matanya pada dinding ruangan di dalam goa itu.

Sesaat kemudian nampak ketegangan telah mencengkam Agung Sedayu. Keringatnya mulai mengalir di kulitnya. Semakin lama nampak betapa ia telah tenggelam dalam pengerahan tenaga pada sorot matanya yang mempunyai sifat wadag itu.

Dalam puncak kekuatannya, perlahan-lahan nampak goresan-goresan kecil pada dinding ruangan itu. Semakin lama menjadi semakin jelas. Sehingga akhirnya, goresan-goresan itu nampak sebagai retak-retak yang menjalar pada dinding goa itu.

Sesaat kemudian, dalam hentakan kekuatannya Agung Sedayu sadar, bahwa dinding goa itupun pula pecah dan sedikit demi sedikit batu-batu padas mulai berguguran. Kesadaran itulah, yang kemudian mulai menahan arus kekuatannya yang lebih dahsyat lagi.

Itulah yang sebenarnya ingin diketahuinya, betapa jauhnya kekuatan matanya yang tidak bersifat wadag, tetapi mempunyai kekuatan yang bersifat wadag itu. Agung Sedayu menghentikan rabaan dan sentuhan kekuatan matanya yang dahsyat itu. Ia sengaja tidak menggunakan segenap kekuatannya, agar dinding goa itu tidak menjadi rusak karenanya.

Ketika ia sudah selesai dengan pemusatan kekuatannya, dan kemudian melapaskannya, terasa betapa kelelahan telah mencengkamnya. Namun perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan mendekati guguran padas yang runtuh dari dinding goa itu. Retak-retak yang masih melekat pada dinding nampak tusukan-tusukan yang seolah-olah telah menghentak pada batu-batu padas itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu pun meraba dengan tangannya. Debu yang tebalpun kemundian runtuh pula. Debu yang melekat pada dinding yang setiap saat bertambah-tambah tebal beberapa lapis. Namun, ketika tangannya meraba di tempat yang agak tinggi, pada bagian-bagian yang runtuh oleh sentuhan matanya, ketajaman alat perabanya telah menyentuh sesuatu.

Itulah sebabnya, maka dengan berdebar-debar iapun mulai menghapus debu yang tebal pada dinding goa itu. Agung Sedayu terkejut. Ia melihat beberapa buah lukisan yang lamat-lamat pada dinding goa itu, yang seakan-akan telah hilang tertutup oleh debu yang tebal. Agung Sedayu tidak sabar lagi. Ia melepas kain panjangnya yang dengan serta merta dikibas-kibaskan pada dinding goa itu untuk menghapus debu permukaan dinding goa yang luas.

Dengan berdebar-debar Agung Sedayu kemudian mulai memperhatikan lukisan-lukisan itu. Dengan segera ia mengenal, ilmu itu adalah ilmu yang sedang ditekuninya di padepokannya bersama gurunya, Ki Waskita dan pamannya Widura.

Dengan tergesa-gesa, seolah-olah sedang dikejar oleh waktu yang semakin sempit, ia mulai menelusur ilmu itu dari permulaan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi dalam tatarannya, serta orang yang serba sedikit telah pernah mengenal ilmu itu pula, maka Agung Sedayupun segera mengetahui pangkal dari pada ilmu itu. Dengan penuh gairah ia memperhatikan setiap tingkatan ilmu yang semakin lama menjadi semakin sempurna itu. Ilmu itu akan sampai pada unsur gerak yang paling tinggi. Dengan mengenal lukisan-lukisan ini, maka seseorang akan mendapat tuntunan unsur-unsur gerak dari ilmu itu sampai ketingkat terakhir.

Tingkat demi tingkat, dan semakin tinggi letak lukisan itu, semakin tinggi pula tingkat ilmu yang terlukis di dinding goa itu. Beberapa tulisan yang terselip di antara lukisan-lukisan itu memberikan beberapa petunjuk yang semakin jelas, bahwa orang yang melukis itu dengan sengaja telah memberikan dasar-dasar ilmunya yang semakin meningkat dalam urutan yang paling wajar, sampai akhirnya tentu akan mencapai puncaknya. Akhirnya Agung Sedayu yang sudah memiliki ilmu puncak itu tidak sabar lagi.

Iapun mempercepat langkahnya. Dengan bekal yang ada padanya, ia langsung dapat mengenali tingkatan ilmu yang terlukis pada dinding goa itu. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun. Ia sudah sampai pada lukisan-lukisan yang semakin rumit. Untunglah bahwa ia pernah berusaha untuk mengenali dirinya sendiri lewat lukisan-lukisan yang pernah dibuatnya di Sangkal Putung. Dengan heran ia melihat, seolah-olah lukisan-lukisan itu telah terpancang pada dinding goa itu pula.

Dibantu dengan tangannya, ia mulai menelusur lukisan tata gerak dan sikap pemusatan tenaga dan tenaga cadangan yang ada pada diri seseorang. Sikap puncak seperti yang baru saja dicapainya di dalam goa itu. Bahkan ada satu lukisan itu menuntun seseorang kepada tingkatan yang lebih tinggi, yang seolah-olah tidak lagi dapat dicapai dengan tanpa melepaskan diri dari kewadagan.

Agung Sedayu benar-benar menjadi tegang. Ia melihat arah ilmu itu pada suatu tingkatan yang paling sulit dan penuh rahasia. Ia melihat seseorang mulai dengan tata gerak halusnya tanpa menyertakan ujud wadagnya untuk melakukan sesuatu yang bersifat wadag.

Seperti rabaan sorot matanya. Namun lebih luas dan tinggi.

LINDSTROM BUYOLOGY EN PDF

API DI BUKIT MENOREH SERI 2 PDF

Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir di luar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar di antaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga di punggungnya. Ketika darah mulai mengalir dari luka itu, maka harimau itupun menjadi bagaikan gila. Perasaan sakit yang tiada taranya telah mencengkamnya. Namun agaknya ia tidak mau menyerah. Dengan garang ia menggeram, dan sekali lagi menyerang Swandaru dengan kedua kakinya yang terjulur ke depan, dengan kuku-kuku yang tajam runcing.

DX2000 USB PDF

Buku 102 (Seri II Jilid 2)

Sikap Sekar Mirah dirasakannya sangat aneh. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, apalagi menjadi ketakutan. Kalau gadis ini memang bukan sanak-kadangmu, kenapa ia berada di sini? Kawannya tiba-tiba saja tertawa, meskipun tidak bersuara. Kawannya masih tertawa. Aku kira lebih baik kau menemuinya sendiri.

FISIOTERAPIA NA ARTRITE GOTOSA PDF

Navigasi pos

Halaman Survei telah diperbarui dengan hasil survei yang dibuka antara bulan Oktober - Maret Semua hasil survei berupa data anonim, tidak ada informasi pribadi tentang Anda yang disimpan :- 21 September Halaman Kisaran Cerita telah tayang, meliputi jilid pertama hingga jilid terakhir. Juga telah ditayangkan "tag cloud" yang berisi karakter-karakter penting dalam cerita. Dan sebagai informasi tambahan terutama bagi yang ingin tahu lebih banyak mengenai statistik situs ini , telah ditambahkan pula halaman Statistik Situs. Di samping itu, proses proofread penulisan telah selesai untuk seluruh jilid, sedangkan penambahan gambar sampul serta ilustrasi sudah menyelesaikan jilid.

Related Articles